Wednesday, April 16, 2008

Lapangan Bulutangkis Sebelah Rumah

Jakarta malam ini sepi. Aku rindu Bapak. Rindu lapangan bulutangkis sebelah rumah. Termasuk rindu pada lampu neon di sepanjang lapangan, penerangan utama saat pertandingan berjalan di malam hari.

Sejak kecil aku sudah terbiasa mendengar berbagai suara dari lapangan itu. Sorak sorai penonton saat pertandingan tujuh belasan, sampai tangis pemain tunggal putri dari RT sebelah ketika kalah rubber set dengan selisih hanya dua angka di set ketiga. Kasihan sekali. Padahal parasnya manis. Sayang urusan wajah tak berpengaruh dalam hal tepok bulu angsa.

Kata Bapak, sebelum aku lahir pun lapangan bulutangkis itu sudah ada. Hasil gotong royong warga kampung yang patut dibanggakan. Tanah yang dijadikan lapangan bulutangkis adalah tanah desa.

Lapangan itulah saksi bisu pertandingan legendaris di kampung kami bertahun-tahun silam. Final tunggal putra saat tujuhbelasan. Bapak melawan anak Pak Lurah. Tak hanya sukses mengalahkan lawan, lewat pertandingan itu Bapak juga sanggup mencuri hati seorang penonton perempuan. Anak Pak Lurah yang nomor dua. Ibuku.

”Wah, jangan dikira gampang ngalahin Pakdemu itu. Susaaaahhhh...”

”Jumping smash nya keras, drop shotnya tajam. Apalagi permainan netnya, halus! Bola cuma seperti bergulir di bibir net..”

Begitulah, kefasihan Bapak tidak diragukan dalam hal kosakata bulutangkis. Aku sering merasa Bapak tidak kalah dengan komentator di televisi yang biasanya muncul saat pertandingan Piala Thomas Uber atau final All England. Bedanya, Bapak tidak mau menggunakan kalimat klasik para komentator yang sampai sekarang masih sering terdengar di televisi.

”Ahhhh, sayang sekali saudara-saudara....!! Nampaknya pengamatan bola pemain kita kurang cermat...!! ”

Singkat kata, lapangan bulutangkis itu tak bisa dipisahkan dari hidup Bapak. Demi lapangan bulutangkis itu pula Bapak rela menjadi pemain untuk hari ini, lalu wasit untuk besok, dan hakim garis untuk lusa.

Itu dulu, saat Bapak masih cukup tangguh untuk melakukan jumping smash tanpa nafas menjadi ngos-ngosan. Saat semua itu tak mungkin lagi terjadi, cukuplah Bapak menjadi tamu kehormatan setiap ada pertandingan digelar di lapangan. Biasanya, panitia akan mengirim pemberitahuan beberapa hari sebelum pertandingan.

”Pak Bayu, Sabtu malam ada pertandingan. Pak Bayu bisa kan?,” itu kalimat tanya sekaligus pemberitahuan yang biasanya diucapkan ketua pantia kepada Bapak.

”Wah, ya jelas bisa...Saya pasti datang! Terimakasih ya!,” wajah Bapak langsung sumringah.

Ketika harinya tiba, kesibukan di lapangan bulutangkis menular ke rumah. Sejak pagi malah.

”Bu, kaosku yang warna biru itu mana? Kok nggak ada? Nanti malam mau kupakai ke lapangan.”

”Aduh Pak, cari saja di almari. Di tumpukan sebelah kiri. Tapi diseterika lagi lho Pak, biar nggak kusut.”

”Ya sudah, kuseterika sendiri saja. Lho, jaketku mana? Yang ada tulisannya INDONESIA itu lho Bu.”

Tanya jawab semacam itu akan terus berlangsung sampai menjelang maghrib. Paling-paling hanya diselingi makan siang dan tidur siang satu dua jam. Sekedar bocoran, jaket dengan tulisan INDONESIA di punggungnya itu sangatlah berharga bagi Bapak.

”Ya ampun Pak, ngapain sih Pak pakai acara pesan jaket yang ada tulisan INDONESIA ke penjahit? Yang pantas pakai jaket seperti itu para atlet, bukan orang tua seperti kita ini Pak..,”

Tapi, bukan Bapak namanya kalau surut mendengar protes Ibu. Istilah anak jaman sekarang, nggak ngefek! Eksistensi jaket INDONESIA di almari rumah tidak tergoyahkan.

”Lho, bukannya aku tambah gagah kalau pakai jaket ini?” selalu itu pembelaan Bapak pada semua orang. Yah, itulah Bapak. Bapakku tercinta..

Segera setelah jaket INDONESIA dikenakan, Bapak pun menuju lapangan bulutangkis sebelah rumah. Ketua panitia akan menyambut Bapak dengan suka cita sambil mempersilahkan Bapak duduk. Setelah itu, mikrofon segera diserahkan kepada Bapak.

Dan, menjelmalah Bapak menjadi komentator tunggal sepanjang malam. Tidak hanya untuk satu pertandingan, namun 5 sekaligus! Mulai tunggal putra sampai ganda campuran. Suara jadi serak tak mengapa. Pinggang pegal tak lagi terasa. Toh, Ibu pasti akan merawat Bapak dengan penuh cinta esok paginya. Bapak tahu itu.

Kebiasaan itu terus berjalan, sampai akhirnya menemukan sebuah ujung tidak terelakkan. Ibu meninggal tahun lalu, dalam sebuah kamar bertembok putih, dengan kami semua mendampinginya. Membisikkan kata cinta dan doa hingga saat terakhirnya.

Hidup Bapak seketika membiru. Sayu dan kesepian. 3 anak di perantauan membuat Bapak sangat membutuhkan kehadiran Ibu. Ibu tidak pernah tidak mengerti kemauan Bapak. Selalu nyambung ketika diajak bicara oleh Bapak.

Mulai tentang Dalai Lama sampai tentang Luiz Ignacio Lula da Silva. Mulai tentang John Lenon sampai Katon Bagaskara. Mulai tentang Rudy Hartono sampai Ricky Subagdja. Khusus Ricky Subagdja, Bapak tak berminat untuk sering membahasnya. Maklum, pipi Ibu selalu bersemu tiap mendengar nama atau melihat wajahnya di televisi.

Jakarta malam ini sepi. Baru saja aku telfon Bapak. Bapak bilang, “Bapak kangen Ibumu.”

Bapak, Ibu, lapangan bulutangkis sebelah rumah, dan jaket INDONESIA, adalah satu paket lengkap. Tidak banyak orang tahu, jaket INDONESIA tak hanya ada satu. Ibu tak pernah mau memakai jaket itu di depan banyak orang. “Malu,” kata Ibu sambil tersipu. Tapi kami anak-anaknya tahu, mereka selalu memakainya di subuh hari, saat berada di lapangan bulutangkis sebelah rumah.

*akhir tahun lalu, tulisan ini sempat berusaha dipanjang-panjangkan. Niat awalnya, saat menjelang piala Thomas Uber di Jakarta sudah bisa selesai. Ternyata, tidak sanggup :) Anggaplah ini hadiah kecil sebagai penyemangat tim bulutangkis Indonesia di ajang Piala Thomas Uber...selamat berjuang!! :)

8 comments:

Amanda Ratih said...

Cerita yang bagus ^_^

astri kusuma said...

terimakasih :)

a riesnawaty said...

terharu mbacanya...mbak...

astri kusuma said...

ini fiksi lho mbak..bukan cerita beneran :D

a riesnawaty said...

laaah? ta' kira beneran.. hihihi....

astri kusuma said...

:D

dodong priyambodo said...

tak kiro tenanan... :D

astri kusuma said...

tertipuuuuuu...:D